Propaganda Agama (Islam) dan Sastra

bd 4

Agama Islam kerap dicap sebagai agama yang ekspansif. Anggapan ini bisa jadi muncul mulai dari aktivitas dakwah yang memang terlihat meluas, beragam lembaga dakwah, banyaknya khatib (pengkhotbah, penceramah, ustad), sampai penilaian singkat terkait konspirasi terorisme dan kekerasan agama. Di Indonesia, ada banyak penerbit maupun perusahaan media massa yang mengkhususkan diri bergelut di pasar umat Islam, hingga muncul istilah “penerbit Islam.” Istilah ini sebenarnya berlebihan, mengingat mereka pun suka menerbitkan buku non-Islam, bahkan tak segan menyerobot ceruk pasar “penerbit umum.” Kasarnya, demi profit hajar saja.

Di sisi lain sayangnya buku-buku Islam juga kerap dianggap sebelah mata, kurang memberi sumbangan berarti bagi kemajuan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Anggapan ini makin terasa di ranah fiksi atau sastra umum. Karya yang berafiliasi dengan “sastra Islam” dianggap minor dibandingkan sastra umum, entah itu karya penulis Muslim maupun bukan. Adakah buku “sastra Islam” karya penulis Indonesia yang berusaha diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris atau Arab, misalnya? Itu merupakan tanda yang cukup jelas bahwa karya tersebut dianggap sepele.

Tema-tema tradisional Islam sejauh ini terbukti tetap laku, apa lagi bila secara mengesankan diramu dengan kisah cinta, pendidikan, maupun perjuangan dari zero to hero. Sangkala Lima (Langlang Randhawa) di satu sisi secara jelas memperlihatkan gabungan teknik bercerita ala Laskar Pelangi dengan spirit Negeri 5 Menara, tapi di sisi lain berani mengangkat isu sensitif, mulai dari pacaran, konversi non-Muslim masuk Islam, aliran Ahmadiyah, termasuk sedikit menyerempet LGBT (Lesbian Gay Bisexual Transgender). Bisa jadi ini tanda “kemajuan” terhadap berbagai fenomena yang muncul dalam Islam, meski nanti di karya ke depan harus dibarengi dengan kematangan dan kekhasan menemukan cara bertutur yang lebih menarik.

Akhirul kalam, terutama sebagai pembaca dan orang yang hidup dalam industri buku, saya sendiri terus berharap penulis yang berkomitmen atau berafiliasi dengan Islam terus melatih untuk mematangkan kemampuan menulisnya. Seperti dalam khotbah, nasihat ini pertama-tama ditujukan untuk diri saya sendiri agar lebih baik menulis; baru setelah itu saya berharap mendapat permata dan manfaat setiap kali bersinggungan dengan buku bertema Islam, apa pun jenisnya. (@ilhamrianp)

(Photo: @ilhamrianp)

Posted on June 3, 2013, in Book, Review. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: