Piringan Hitam Masih Menjadi Pilihan

bd 1Perilisan musik album dalam bentuk piringan hitam biasanya akan mendapatkan antusias yang berlebih dari pengamat musik. Apakah ini sebuah penghargaan terhadap peradaban musik abad 19? Namun rilis musik dalam bentuk piringan lebih perlu dirayakan semata-mata karena prosesnya yang lama dan mendebarkan, penuh penantian disertai rasa khawatir. Saya akan mewawancarai Marcel Thee seorang vokalis band indie Indonesia dan juga sebagai aktor utama di balik proyek ini.

Apa yang Anda rasakan saat ini ketika sudah memegang test-pressing dari Osaka Journals?

Pertama saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang membantu. It’s exciting as hell. Ini rilis vinyl pertama kami. Terutama jika kita ingat konteks bahwa sekarang semua hanya berpusat kepada mp3. Saya tahu bahwa masih banyak orang yang tergila-gila dengan vinyl atau rilisan fisik; dan ini tentu membuat proyek ini semakin menyenangkan.

Hal yang juga tidak kalah penting. Di The Osaka Journals, aksen mana yang Anda pakai? Apakah ada masalah dalam bernyanyi dalam Bahasa Inggris, karena jika saya perhatikan ada beberapa kata yang agak tidak jelas aksennya?

Saya tidak tahu aksen mana yang dipakai. Mungkin itu versi Bahasa Inggris menurut saya, namun yang pasti saya tidak melakukanya secara sadar. Saya juga tidak ingat, apakah ada beberapa kata atau kalimat yang terasa janggal. Mungkin karena saya sering terdengar seperti bergumam; saya sendiri tidak terlalu suka jika apa yang ada di lirik menjadi terlalu jelas.

Apakah perubahan yang Anda rasakan antara waktu membuat The Osaka Journals dan sekarang?

Dalam bermain dengan band, saya pikir masih sama. Saya masih sangat peduli, jika bukan semakin peduli dengan musik yang kami buat. Mungkin sekarang hanya semakin tidak suka dengan membuat lagu yang lebih berwarna dan mencoba menjadi tidak monotone. Secara pribadi, kini saya semakin merasa bebas untuk menulis dan merilis musik dengan tidak memakai nama Sajama Cut, yang mungkin lebih banyak berhubungan dengan kenyataan bahwa saya memandang hidup lebih bebas dan lebih penuh kejutan. Dan tentu saja, saya kini tidak lagi menulis lirik lagu secara literer seperti di The Osaka Journals.

Ketika merilis The Osaka Journals, apakah Anda berfikir ini akan menjadi sebuah album yang laku? Dan yang tidak bisa saya mengerti, mengapa Universal (untuk menjadi distributor)?

Tidak. Kami tidak pernah dan tidak akan berfikir tentang musik dalam kerangka semacam itu. Akan sangat bodoh dan bahkan irasional untuk berharap bahwa lagu yang kami tulis bisa mendapat penghargaan yang luas di negeri ini. Harapan-harapan kami sangat realistis dan kami sadar siapa yang akan mendengarkan musik kami. Kami memilih Universal karena: 1. Kami punya teman dekat di sana dan 2. Ada makanan kecil yang lebih enak di kantor mereka, sejujurnya kami hanya ingin album kami terdistribusi dengan baik meskipun pada akhirnya itu juga tidak tercapai.

Apa yang membuat Anda bangga dengan The Osaka Journals?

Semuanya. Semua yang kami lakukan, bahkan sampai hal-hal yang bisa membuat kami malu, dan ini semua merupakan refleksi utuh dari siapa kami sesungguhnya sebagai seorang musisi. Sadar tentang bagaimana selera musik kebanyakan orang di negeri ini dan secara sengaja melawannya dengan sangat terbuka adalah bukti nyata bahwa kami masih percaya kepada integritas bermusik.

Tentang hasil akhir album The Osaka Journals yang sedikit raw, Anda pernah bilang ini karena keterbatasan sumber daya di studio. Apakah Anda berfikir bahwa jika saja Anda punya sumber daya lebih hasilnya akan bisa berbeda?

Tidak juga. Kami sesungguhnya merekam album ini di sebuah studio yang besar. Apa yang terdengar live di album ini lebih merupakan gabungan dari kenyataan bahwa kami masih baru dan dari keinginan untuk membuat semua terdengar baur. Vokal di album ini secara sadar direkam agar tidak terdengar seperti album pop dimana vokal selalu berada di atas semua instrumen yang lain. Kami tahu bahwa aransemen lagu-lagu kami berwarna pop, jadi kami ingin memberinya penyeimbang dengan apa yang bisa dibilang kurang “tepat”. Saya berfikir bahwa jika kami merekam album ini dengan sumber daya yang ada sekarang, The Osaka Journals mungkin akan terdengar lebih megah dan penuh dengan string, yang mungkin akan terdengar lebih baik atau lebih buruk tergantung dari cara pandang Anda. Tidak banyak yang saya sesali, namun saya mungkin ingin lebih bisa menambahkan lebih banyak suara organ, karena lagu-lagu di album ini sangat membutuhkannya.

Di sisi lain ada beberapa track yang sangat smooth dan memiliki ornamen keyboard. Sesungguhnya sound seperti apa yang diinginkan untuk album ini?

Kami ingin album ini terdengar seperti gabungan antara Murmur dan Document milik REM, Rex’s C, atau juga Clouds Taste Metallic  dari The Flaming Lips. Sesungguhnya itu tujuan kami, namun kami tidak bisa banyak berpetualang karena sewa studio saat itu sangat mahal dan kami tidak punya banyak uang, selain juga kami tidak bisa merekam atau melakukan overdubbing di rumah. (@ilhamrianp) (Photo: @ilhamrianp)

Posted on June 3, 2013, in Profile. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: