Tan Malaka “GERPOLEK”

BD_REVIEW_BUKU_[TAN MALAKA]

Tan Malaka adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia yang sangat kontroversial dimata penjajah Belanda (sebelum 1945) juga dimata pemerintahan Indonesia pada masa itu (setelah 1945). Tan Malaka sempat menjadi salah satu juru damai dalam konflik antar etnis di Singapura dan menjadi inisiator dari kemerdekaan Philipina, sembari terus berjuang bergerak untuk memerdekakan bangsanya sendiri, Indonesia.

W.R. Supratman sudah membaca seluruh buku Massa Actie itu,” kata Hadidjojo. Muhammad Yamin lah yang memaksa Sugondo memberikan waktu bagi Supratman memainkan lagu ciptaannya di situ. Lalu bergemalah lagu “Indonesia Raya”, lagu yang liriknya terinspirasi dari bagian akhir “Massa Actie“: “Lindungi bendera itu dengan bangkaimu, nyawamu, dan tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu, seorang putra tanah Indonesia tempat darahmu tertumpah”

Dari buku “Gerpolek” (Gerilya Politik Ekonomi), Indonesia dikenal dalam strategi perang gerilya, yang kemudian disusun oleh Jend. A.H. Nasution, dan menginspirasi Ernesto Guevara melawan imperialisme di Amerika Latin. Ketika memperingati sewindu hilangnya Tan Malaka pada 19 Februari 1957, Kepala Staf Angkatan Darat Mayor Jenderal Abdul Haris Nasution mengatakan; pikiran Tan Malaka dalam Kongres Persatuan Perjuangan dan pada buku Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi) menyuburkan ide perang rakyat semesta. Perang rakyat semesta ini, menurut Nasution, sukses ketika rakyat melawan dua kali agresi Belanda. Terlepas dari pandangan politik, ia berkata, Tan Malaka harus dicatat sebagai tokoh ilmu militer Indonesia.

Di seputar Proklamasi, Tan Malaka menorehkan perannya yang penting. Ia menggerakkan para pemuda ke rapat raksasa di Lapangan Ikada (kini kawasan Monas) 19 September 1945. Inilah rapat yang menunjukkan dukungan massa pertama terhadap proklamasi kemerdekaan yang waktu itu belum bergema keras dan “masih sebatas catatan di atas kertas”. Tan menulis aksi itu “uji kekuatan untuk memisahkan kawan dan lawan”. Setelah rapat ini, perlawanan terhadap Jepang kian berani dan gencar. Selain itu, atas dorongan Tan Malaka-lah penculikan Sukarno dan Hatta untuk segera mengumandangkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945 dilakukan. (@seftya_putra)

Posted on May 1, 2013, in Book, Review. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: